Categories:

Trik Jitu Pemerintah Amerika Serikat Melacak dan Tangkap Imigran Gelap

Pemerintah amerika serikat mengakui jika pemerintahan Trump beli akses ke database komersil, untuk tahu kehadiran juta-an orang Amerika dengan arah menangani imigrasi ilegal.

Departemen Keamanan AS Bergerak Cepat

Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) mengaku sudah beli akses ke data, walau tidak mengulas dengan detil bagaimana memakainya. Amerika Serikat (AS) melakukan razia terhadap tujuh pabrik pengolahan daging di negara bagian Mississippi pada Rabu 7 Agustus 2019.

Dalam penggerebekan itu, 680 imigran ditangkap, kebanyakan berasal dari negara-negara Amerika Latin, demikian sebagaimana dikutip dari Al Jazeera Menurut media, Imigrasi serta Bea Cukai (ICE) Amerika Serikat, yang disebut divisi dari DHS memakai data ini untuk mengetahui, mengenali, serta tangkap imigran yang tidak diperlengkapi dokumen.

Divisi lain DHS yakni Bea Cukai serta Perlindungan Tepian memakai database untuk mencari kesibukan handphone di wilayah terpencil di gurun serta beberapa tempat tidak biasa yang lain, di dekat tepian Meksiko untuk tangkap imigran yang masuk dengan cara ilegal. Data tempat disatukan dari aplikasi mobile serta game simpel yang sudah dibolehkan oleh pemakai untuk tahu tempat mereka. Ini salah satu pangkal data paling besar yang diketahui dipakai oleh agen penegak hukum Amerika Serikat untuk mencari serta mengawasi orang.

Ternyata, data itu diberikan dengan ICE untuk mencari organisasi penyelundupan manusia atau beberapa obat terlarang dan lakukan deportasi. Dilansir dari Android Authority, sepertinya penggunaan data oleh pemerintah Amerika Serikat ini termasuk dalam wilayah hukum, meskipun kasus ini belum pernah diuji di pengadilan sebelumnya.

Presiden AS Akan Menyelesaikan Masalah Ini Sampai Selesai

“Ini adalah situasi klasik di mana pengawasan komersial yang merayap di sekor swasta sekarang merambat ke pemerintah,” ucap Alan Butler, penasihat umum Pusat Informasi Privasi Elektronik. Sampai sekarang, sepertinya pemerintah Amerika Serikat akan terus melacak warga negara dan imigran secara legal menggunakan basis data ini untuk masa yang akan datang.

Menurut para pengamat, penggerebekan tersebut merupakan razia imigrasi terbesar yang dilakukan AS dalam satu dekade terakhir. Razia tesebut dilakukan beberapa jam sebelum Presiden AS Donald Trump mengunjungi El Paso, negara bagan Texas, tempat di mana penembakan oleh pendukung supremasi kulit putih menewaskan 22 orang, mayoritas Hispanik.

“Pada suatu ketika kami mencari upaya persatuan untuk menyembuhkan luka bangsa, Presiden Trump justru membiarkan begitu banyak keluarga dan komunitas (imigran) tercabik-cabik,” kata Angelica Salas, Direktur Eksekutif Coalition for Humane Immigrant Rights. Trump telah mengadopsi garis keras tentang imigrasi –baik yang legal maupun ilegal– sejak mulai menjabat pada 2017. Dia juga menyebut imigran dari Amerika Selatan sebagai “penjahat”

Share This Post